Selasa, 27 Agustus 2013

ARYA PENANGSANG 6

Arya Penangsang (6)

22 April 2010
Bagian 6
Setibanya di Pajang, Adipati Adiwijaya beserta rombongan disambut para pejabat dengan suka cita. Tak ada yang kurang dari jumlah rombongan, Semua dalam kondisi baik dan selamat.
Adipati Adiwijaya berkenan untuk beristirahat setelah menempuh perjalanan jauh. Pada sore harinya, Adipati Adiwijaya memanggil Ki Mas Manca, Ki Mas Wila, Ki Mas Wuragil, Ki Ageng Pamanahan berikut Ki Juru Mertani.
Diruang khusus, dan tidak ada orang lain yang hadir selain keenam orang tersebut,Adipati Adiwijaya menyampaikan maksudnya. Sang Adipati berkenan meminta pemecahan mengenai kasus Arya Penangsang.
Arya Penangsang tidak bisa terus menerus didiamkan saja. Harus ada pihak yang berani bertindak. Dan tampaknya, hanya Pajang yang mampu menghadapi kekuatanJipang.
Yang menjadi masalah, posisi Pajang sangatlah terjepit. Pajang dipimpin oleh seorang Adipati yang bukan muslim. Dan tentu saja fenomena ini akan membuat Dewan Wali Sangha tidak menaruh simpatik.
Searogan apapun Arya Penangsang, sekejam apapun dia, namun dia telah memegang dua point penting sebagai sendi kekuatannya. Pertama, jelas dia seorang muslim, kedua, Sunan Kudus berada dibelakang dia.
Oleh karenanya, Adipati Adiwijaya meminta pertimbangan dan jalan keluar yang tepat, yang tidak merugikan Pajang, namun bisa menghancurkan kekuatan Jipang.
Ki Mas Manca mengusulkan agar Sang Adipati tidak gegabah berhadapan secara langsung dengan Arya Penangsang. Ki Mas Manca telah mendengar kabar bahwa dipesantren Kudus, Sang Adipati hampir saja kehilangan kontrol diri. Jika memang hendak berhadapan dengan Arya Penangsang, lebih baik menggunakan kekuatan ketiga.
Ki Mas Wila dan Ki Mas Wuragil membenarkan pendapat Ki Mas Manca. Begitu juga dengan Ki Ageng Pamanahan dan Ki Juru Mertani. Yang menjadi masalah sekarang, siapakah kekuatan ketiga yang bisa dijadikan alat untuk memukul Jipang?
Seluruh yang hadir terdiam. Masing-masing tengah memeras otak.
Lantas, Ki Ageng Pamanahan angkat bicara sembari menyembah :
“Mohon beribu ampun, Kangjeng Adipati. Jika diperbolehkan hamba akan memberikan masukan…”
Adipati Adiwijaya mengangguk…
“ Menurut saya,” lanjut Ki Ageng Pamanahan, ”Tidak ada lagi kekuatan dahsyat yang mampu menghadapi Jipang kecuali kekuatan Pajang. Tak ada jalan lain, tak ada kekuatan lain yang akan sanggup melakukannya. Oleh karenanya, kita tidak bisa mengharapkan daerah lain tampil secara mandiri berhadapan dengan Jipang.”
Semua yang hadir mengerutkan dahi mendengarnya…
“Mau tidak mau, pasukan Pajang sendiri harus bergerak! Namun….”
Semua yang hadir menunggu…
“Sebaiknya, pasukan Pajang harus melepas busana keprajuridan Pajang. Pasukan Pajang harus melepas identitasnya sebagai pasukan Pajang. Harus ada daerah lain yang berani tampil kedepan untuk mengakui bahwa, pasukan Pajang yang tengah bergerak menggempur Jipang, berasal dari daerahnya. Jika kelak terjadi perang terbuka, menang atau kalah, maka Pajang tidak akan terbawa-bawa!”
Tertegunlah seluruh yang hadir…
Ki Mas Manca angkat bicara :
“ Pamanahan, lantas daerah manakah yang dimungkinkan untuk berani tampil mengakui seperti itu?”
Ki Ageng Pamanahan menyembah :
“Kalau memang diijinkan, biarlah hamba dan paman saya, Ki Juru Mertani yang akan tampil kedepan. Biarlah kami atas nama daerah Sela, memimpin pasukan Pajang melakukan perang terbuka dengan Jipang Panolan. Biarlah terdengar kabar, Jipang Panolan tengah berperang dengan Sela!”
Seluruh yang hadir menghela nafas berat. Suasana hening untuk beberapa saat.
Ki Mas Manca kemudian angkat bicara :
“Daerah Sela identik dengan Kangjeng Sunan Kalijaga….”
Adipati Adiwijaya memincingkan mata mendengarnya…
“Dan Jipang Panolan identik dengan Kangjeng Sunan Kudus,” lanjut Ki Mas Manca.
“Dan akan menjadi sebuah berita yang besar manakala Dewan Wali Sangha mendengarnya, bukankah begitu kangmas Manca?” Sela Adipati Adiwijawa datar.
Ki Mas Manca menyembah sesaat :
“Benar dhimas Adipati. Dan jika itu terjadi, tidak menutup kemungkinan, Dewan Wali Sangha akan campur tangan untuk memaksa kedua belah pihak agar melakukan genjatan senjata.”
Adipati Adiwijaya menghela nafas sekali lagi…
Nampak kini, Ki Juru Mertani menghaturkan sembah…
“Mohon beribu ampun, Kangjeng Adipati. Jika boleh saya hendak menghaturkan pendapat..”
Adipati Adiwijaya mengangguk mempersilakan..
“Sebaiknya Kangjeng Adipati mengeluarkan sayembara khusus secara terselubung kepada para penguasa daerah yang berada dibawah kekuasan Pajang. Mohon sayembara ditawarkan kepada penguasa yang jelas-jelas telah nyata kesetiaannya kepada Pajang. Hindari penguasa daerah yang masih diragukan kesetiaannya. Dari sekian banyak para penguasa daerah yang ditawari sayembara, pastilah ada yang akan berani tampil untuk memimpin pasukan Pajang dengan menggunakan identitas daerahnya. Jikalau memang tidak ada yang berani, maka terpaksa, saya beserta keponakan saya, Pamanahan, akan tampil kedepan dengan mempertaruhkan nama Sela! Saya berjanji, saya akan memotong kepala harimau terlebih dahulu agar peperangan tidak berjalan berlarut-larut. Arya Penangsang, saya pastikan harus tewas terbunuh terlebih dahulu. Sehingga jika kemudian Dewan Wali Sangha ikut campur memaksakan agar terjadi gencatan senjata, maka disaat gencatan senjata terjadi, Arya Penangsang harus telah mati!!”
Ki Mas Manca meragukan kata-kata Ki Juru Mertani…
“Juru Mertani, yakinkah kamu dengan ucapanmu?”
Ki Juru Mertani menyembah :
“Dengan taktik yang bakal hamba buat, untuk memperdaya Arya Penangsang, agar keluar sarang sendirian, saya yakin, saya pasti bisa memenuhi ucapan saya, Kangjeng Patih..”
Ki Mas Manca mengangguk-angguk, lantas dia menoleh ke arah Adipati Adiwijaya :
“Bagaimana, dhimas Adipati?”
Adipati Adiwijaya tercenung sesaat, lantas dia berkata :
“Baiklah, tapi hal tersebut dilakukan jika memang nanti tidak ada satupun daerah yang berani memasuki sayembara. Oleh karenanya, aku akan memberikan imbalan besar. Yaitu, siapa saja yang berani mengakui pasukan yang bakal menggempur Jipang berasal dari daerahnya dan berhasil mematahkan kekuatan Jipang, maka aku akan memberikan hutan Mentaok dan daerah Pati sebagai imbalannya!”
Keputusan telah diambil. Tidak menunggu waktu lama, atas perintah Adipati Adiwijaya, Ki Mas Manca segera memerintahkan Juru Tulis Kadipaten untuk membuat surat-surat undangan resmi. Surat-surat undangan yang bakal dikirim kepada para penguasa daerah yang berada diwilayah kekuasaan Kadipaten Pajang. Pada hari yang telah ditentukan, mereka harus datang ke Kadipaten Pajang atas perintah Adipati Adiwijaya.
Sayembara Adipati Pajang.
Tiga bulan kemudian, beberapa hari sebelum hari yang telah ditetapkan dalam surat undangan resmi, berdatanganlah para penguasa daerah yang ada diseluruh wilayah Kadipaten Pajang. Mereka datang berkelompok, tidak bersamaan, gelombang pergelombang. Tidak ada yang mencolok. Karena memang begitulah pesan yang dituliskan dalam surat undangan dari Sang Adipati.
Dan pada hari yang ditetapkan, seluruh penguasa daerah telah berkumpul di Siti Hinggil Kadipaten. Lama waktu berselang, mereka semua menunggu kehadiran Sang Adipati ditempat itu. Beberapa saat kemudian, muncullah Adipati Adiwijaya diiringi Ki Mas Manca dan kepala pengawal pasukan khusus Ki Ageng Pamanahan dan Ki Juru Mertani, berikut beberapa prajurid khusaus yang mengawal.
Didepan para penguasa daerah, Adipati Adiwijaya meminta Ki Mas Manca membacakan sayembara. Seusai sayembara dibaca, suasana mendadak hening. Tak ada yang berani bersuara. Melihat situasi menjadi sepi dan tegang, Adipati Adiwijaya angkat bicara, dia mempertegas isi sayembara dengan menantang, siapa yang berani tampil kedepan, yang akan memimpin pasukan Pajang, dengan menggunakan identitas dari daerahnya?
Suasana sepi tidak juga mencair. Hingga kemudian, seorang penguasa daerah, terlihat menyembah dan berkata :
“Kasinggihan dhawuh, Kangjeng. Ijinkan saya mengutarakan kebimbangan saya, yang mungkin juga mewakili kebimbangan hati dari seluruh teman-teman yang hadir disini. Kangjeng, jika kami semua diperintahkan angkat senjata menggempur Jipang atas nama pasukan Pajang, sudah barang tentu, kami tidak akan banyak berfikir panjang, jiwa raga kami akan kami pasrahkan untuk itu. Namun, manakala kami harus menggempur Jipang atas nama daerah kami, mohon maaf, Kangjeng. Jika nanti benar-benar terjadi hal tersebut, kami tidak berani menanggung resiko dengan mengorbankan kerabat kami yang ada didaerah. Kaum Putihan terkenal radikal dan bisa berbuat ngawur atas nama agama. Mohon Kangjeng memaklumi.”
Adipati Adiwijaya menghela nafas. Kata-kata yang terucap barusan memang ada benarnya. Karena tidak ada juga yang berani memasuki sayembara, maka Adipati Adiwijaya-pun menutup pertemuan tersebut. Sebelum menutup pertemuan, Sang Adipati meminta pengiriman pasukan dari semua daerah untuk memperkuat barisan pasukan Pajang. Perintah yang terakhir ini, disambut dengan suka cita tanpa keraguan sedikit-pun oleh semua penguasa daerah.
Mendapati sayembara yang dipermaklumatkan tidak ada yang memasuki, maka hari itu juga, Adipati Adiwijaya mengutus Ki Ageng Pamanahan dan Ki Juru Mertani untuk menjalankan rencana lain yang pernah mereka tawarkan. Ki Ageng Pamanahan danKi Juru Mertani, segera menjalankan perintah!
Angkatan bersenjata Pajang segera mempersiapkan diri untuk menghadapi sebuah perang besar. Mereka dikoordinir dibawah pimpinan penuh Ki Ageng Pamanahan! Sembari menunggu bantuan pasukan dari daerah, Ki Ageng Pamanahan dan Ki Juru Mertani mematangkan rencana yang telah mereka buat sebelumnya.
Atas saran Ki Juru Mertani, Ki Ageng Pamanahan diminta untuk menguasahakan agarTombak Pusaka Kyai Plered, bisa mereka pinjam. Karena hanya dengan tombak pusaka peninggalan Majapahit tersebut, kulit Arya Penangsang bisa dilukai. Hanya saja, tombak tersebut sedemikian berharga bagi Adipati Adiwijaya dan tidak akan mungkin dipinjamkan begitu saja kecuali kepada orang yang benar-benar dipercayai oleh Sang Adipati. Maka terpaksa, Ki Ageng Pamanahan, atas saran Ki Juru Mertani, meminta agar Danang Sutawijaya, putranya yang kiini telah diambil anak angkat oleh Adipati Adiwijaya, diminta untuk ikut memperkuat barisan.
Adipati Adiwijaya tidak paham atas permintaan ini, selain Danang Sutawijaya masih kecil, tidak ada kelebihan Danang Sutawijaya yang bisa dimanfaatkan untuk memperkuat barisan Pajang. Namun, dengan cerdiknya, Ki Ageng Pamanahanmeyakinkan Adipati Adiwijaya, bahwa mengajak Danang Sutawijaya untuk memperkuat barisan Pajang adalah salah satu dari tak-tik yang hendak dijalankan. Pada akhirnya, Adipati Adiwijaya menyetujui. Bahkan manakala Ki Ageng Pamanahan memohon agar Danang Sutawijaya diperkenankan membawa tombak pusaka Kyai Plered, Sang Adipati-pun tidak bisa menolaknya.
Setelah bantuan pasukan dari daerah telah sepenuhnya datang, maka pasukan segera berangkat. Tujuan awal adalah daerah Sela. Daerah asal Ki Ageng Pamanahan. Disana, seluruh pasukan akan diatur sedemikian rupa. Sela menjadi pusat konsentrasi pasukan Pajang. Dan nanti, identitas seluruh pasukan akan berganti menjadi pasukan Sela! Akan dikabarkan, bahwa pengikut Islam Abangan, bergabung di Sela untuk memerangi Jipang Panolan dibawah pimpinan Ki Ageng Pamanahan, keturunan Ki Ageng Sela! Nama Pajang, tidak sedikit-pun dibawa-bawa!
Pasukan segera berangkat berkelompok menuju Sela. Dengan berpakaian rakyat biasa serta menyembunyikan seluruh persenjataan didalam bilah bambu, maka kelompok demi kelompok, secara terpisah-pisah waktu, agar supaya tidak mencolok dan menimbulkan kecurigaan, berangkatlah seluruh pasukan Pajang.
Pergerakan pasukan ini benar-benar tersamarkan. Susul menyusul rapih dan teratur. Dan pada akhirnya, beribu-ribu pasukan pun kini telah berkumpul di Sela!
Rencana segera dimatangkan di Sela. Seluruh pasukan mengenakan tanda khusus yang disematkan dibaju mereka. Dengan pakaian rakyat biasa, layaknya para gerilyawan Majapahit, pasukan Pajang yang kini mengaku diri mereka sebagai pasukan Sela, telah siap untuk bertempur!!
Pada hari yang telah ditentukan, menjelang malam hari, pasukan-pun bergerak. Pasukan dipecah dalam empat kelompok besar. Sengaja pasukan dipecah demi untuk kembali menyamarkan diri. Disuatu titik, yaitu diperbatasan wilayah Jipangyang berwujud sungai, disanalah nanti, keempat kelompok pasukan harus kembali bertemu.
Setiap kelompok pasukan menempuh rute-rute khusus. Rute-rute yang menghindari daerah-daerah padat penduduk. Beberapa hari kemudian, seluruh kelompok telah bersatu kembali ditempat yang telah disepakati bersama.
Seluruh pasukan segera mempersiapkan diri, senjata-senjata dikeluarkan dari bilah bambu, anak panah dibagi-bagikan, pos-pos prajurid darurat ditetapkan dan segera ditempati oleh mereka-mereka yang ditunjuk untuk itu. Gerakan rahasia ini begitu rapi, sebentar saja, persiapan untuk sebuah perang besar, telah tertata!! Pasukan Pajang siap melumat Jipang panolan hari itu juga!!
Seluruh prajurid kini menunggu komando selanjutnya.
Dititik yang lebih tersembunyi, terlindung dibalik gerombol pepohonan lebat, Ki Ageng Pamanahan dan Ki Juru Mertani tengah menunggu saat yang tepat. Nampak Danang Sutawijaya, putra Ki Ageng Pamanahan, putra angkat Adipati Pajang Adiwijaya telah mempersiapkan diri menjalankan tugas. Dia berdiri disamping kuda putih yang nanti harus ditungganginya. Sebatang tombak panjang, dengan ujung tertutup kain putih dan rangkaian bunga melati tergantung disana, tergenggam erat ditangan kecil Danang Sutawijaya. Itulah tombak pusaka Kyai Plered yang terkenal ampuh!
(Kyai Plered konon diperoleh Syeh Maulana Maghribi, seorang wali Islam jaman Majapahit setelah dia berhasil melakukan tapa brata keras dipantai Parang Tritis, Jogjakarta, sekarang. Tombak ini lantas diberikan kepada Ki Ageng Tarub I atau Kidang Telangkas. Lantas diwariskan kepada Raden Bondhan Kejawen, putra Prabhu Brawijaya V dengan Dewi Wandhan Kuning yang lantas bergelar Ki Ageng Tarub II. Diwariskan kemudian kepada Ki Getas Pandhawa, putra Raden Bondhan Kejawen. Lantas di serahkan kepada Ki Ageng Sela, putra Ki Getas Pandhawa. Manakala berada ditangan Ki Ageng Sela, tombak dititipkan kepada Sunan Kalijaga. Lantas oleh Sunan Kalijaga, dititipkan kepada Jaka Tingkir, Adipati Pajang hingga saat ini. Maka sesungguhnya, tombak Kyai Plered memang milik leluhur Danang Sutawijaya. Karena Ki Ageng Sela lantas berputra Ki Ageng Ngenis, Ki Ageng Ngenis berputra Ki Ageng Pamanahan, dan Ki Ageng Pamanahan berputra Danang Sutawijaya, Jika ada yang bertanya mengapa silsilah keturunan Tarub jika disejajarkan dengan keturunan Pengging maka lebih cepat beranak pinak? Hal ini tidaklah aneh. Dimasyarakat Jawa sekarang-pun kadang pemuda berusia 20 tahun sudah dipanggil kakek karena kakak kandungnya telah memiliki cucu. Hal ini disebabkan jarak lahir mereka terpaut jauh beberapa tahun. Begitu pula dengan trah Tarub dan Pengging, bila ditarik garis lurus keatas, maka Ki Ageng Sela adalah cicit Brawijaya V sejajar dengan Jaka Tingkir yang juga merupakan cicit Brawijaya V. Namun, usia Ki Ageng Sela lebih tua dari Jaka Tingkir karena memang Ki Ageng Sela lahir lebih dahulu disebabkan ayah kandungnya, Ki Getas Pandhawa menikah diusia muda, lebih muda daripada Ki Ageng Pengging. Begitu juga ketika Ki Ageng Sela telah berputra Ki Ageng Ngenis, Jaka Tingkir belum menikah. Manakala Ki Ageng Ngenis berputra Ki Ageng Pamanahan, baru Jaka Tingkir menikah diusia yg agak tua. Maka tak heran, putra Ki Ageng Pamanahan, yaitu Danang Sutawijaya, sebaya dengan putra Jaka Tingkir, Pangeran Benawa. Lantas apa yang aneh? Saya membaca komentar yang menggelikan karena mempertanyakan hal ini disebuah catatan saya yang diterbitkan oleh http://apakabar.ws Mengenai kisah Ki Ageng Sela memberontak ke Demak yang terus dia pertanyakan, saya sarankan dia mencari BABAD TANAH JAWA terbitan TB.SADU BUDI, SOLO yang ditulis oleh Ki Wiryapanitra. Dan kepada semua orang yang meragukan kisah saya, jelas mereka tidak pernah mengenal sastra klasik Jawa seperti BABAD TANAH JAWA, DARMA GANDHUL, SERAT KANDHA, BABAD CIREBON, BABAD TUBAN, BABAD PONOROGO, dll. Saya memaklumi keraguan mereka. Yang tidak bisa saya maklumi adalah, kengototan mereka. Jika mereka ngotot meragukan catatan saya, jelas pengetahuan mereka tentang sejarah Jawa yang tertuang dalam naskah-naskah klasik sangat-sangat minim. Yang mereka ketahui hanyalah sejarah Jawa yang bersumber dari pihak mayoritas, pihak pemenang, yang tampaknya juga telah mewarnai dan mempengaruhi kurikulum Sejarah Nasional Indonesia, yang diajarkan dibangku-bangku sekolah. Maka tidak heran jika banyak email masuk bernada tercengang setelah membaca catatan saya. Saya tidak heran, karena selama ini memang mereka dicekoki dengan kisah-kisah yang putih tanpa cela saja. Mereka yang ngotot meragukan catatan saya, secara tidak sadar telah menunjukkan diri mereka adalah korban dari sebuah manipulasi sejarah tetapi tidak menyadarinya. Kepada merekalah memang catatan ini saya buat.  Bagi yang sudah terbiasa dengan naskah-naskah sastra klasik Jawa, mereka hanya akan menikmati kisah yang saya tulis ulang dengan gaya penuturan khas saya ini. Mereka hanya akan duduk manis seolah me-replay sebuah film yang pernah mereka lihat bertahun-tahun lalu dan kini diputar kembali. Yang sudah tahu semua cerita yang saya tulis ini, akan duduk menikmati dan berkata,“Yang belum tahu tapi merasa sudah paling tahu dan paling benar, lihat dong kisah klasik ini!” Salam manis bagi teman-teman yang semacam ini. Namun ada pula yang sangat saya sayangkan, yaitu jika ada generasi muda yang sudah tidak tahu, namun tidak mau pula membaca catatan-catatan semacam ini. Sampai kapan kalian akan terus dibodohi? Saya tidak ingin kalian puji hanya karena telah menulis catatan-catatan seperti ini. Tujuan saya tak lain hanya BUKALAH MATA KALIAN! Jika catatan-catatan saya berhasil MEMBUKA MATA KALIAN, saya merasa puas, lebih puas daripada hanya sekedar dipuji-puji! : Damar Shashangka)
Catatan dari Admin Annunaki: Saya dukung kisah klasik yang mas damar ceritakan ulang ini. Semoga bangsa Indonesia khususnya orang JAWA mau membuka mata akan sejarah mereka yang sebenarnya :) Namaste!
Ada yang tampak aneh dari kuda putih yang tali kekangnya tengah dipegang oleh Danang Sutawijaya. Kuda tersebut jelas bukanlah kuda jantan yang biasa dipakai untuk bertempur. Kuda ini jelas kuda betina. Dan tampak semakin aneh lagi, manakala diperhatikan lebih seksama, ekor kuda terlihat diikat keatas pelana sedemikian rupa, sehingga kemaluan kuda betina itu nampak terbuka jelas. Entah apa maksudnya. Ki Juru Mertani yang mempunyai ide seperti itu.
Ki Juru Mertani dan Ki Ageng Pamanahan tengah bersiap-siap mengirimkan seorang utusan yang hendak diutus ke Jipang. Utusan yang membawa surat tantangan perang! Namun, belum juga sang utusan berangkat, nampak dari kejauhan, diseberang sungai, tujuh orang tukang rumput berpakaian bagus terlihat tengah berjalan ditepian sungai sembari membawa keranjang rumput.
Ki Juru Mertani tertegun, pucuk dicinta ulam tiba, dia tahu pasti, ketujuh orang yang tengah terlihat itu tak lain adalah perumput dari istana Jipang Panolan. Mereka pastilah tukang rumput yang tengah bertugas mencarikan rumput untuk makanan kuda kesayangan Arya Penangsang, Kyai Gagak Rimang. Cepat Ki Juru Mertani memerintahkan agar Ki Ageng Pamanahan mempersiapkan diri. Ki Juru Mertani memberikan petunjuk singkat. Ki Ageng Pamanahan mengangguk tanda mengerti dan langsung menaiki punggung kudanya. Sejenak Ki Juru Mertani memberikan petunjuk kepada Kepala Pasukan agar tidak melakukan gerakan apapun tanpa ada perintah darinya. Lalu, dia menaiki punggung seekor kuda.
Tak berapa lama, nampak Ki Juru Mertani dan Ki Ageng Pamanahan terlihat memacu kuda menyeberangi sungai yang dangkal dibawah sana. Melihat kedatangan dua orang yang tidak dikenal, tujuh orang tukang rumput terkejut. Apalagi, terdengar kemudian dua orang itu berteriak memanggil mereka. Seketrika ketujuh perumput ini menghentikan langkah kakinya.
Ki Juru Mertani dan Ki Ageng Pamanahan menghampiri mereka. Begitu jarak sudah sedemikian dekat, keduanya segera turun dari atas pelana kuda masing-masing.
“Kisanak, buat siapakah rumput-rumput ini?” , tanya Ki Juru Mertani.
Salah seorang perumput menjawab :
“Rumput-rumput ini untuk makanan kuda Kangjeng Arya Jipang ( Arya Penangsang maksudnya : Damar Shashangka)!”
Ki Juru Mertani tersenyum. Dia keluarkan sebuah gulungan rontal dari balik bajunya.
“Kisanak, kami memiliki pesan buat junjungan kalian. Maukah kalian menyampaikannya?”
Ketujuh orang saling berpandangan, lalu salah satu dari mereka bertanya :
“Kalian orang mana?”
Ki Ageng Pamanahan menjawab :
“Katakan kepada junjungan kalian, kami berasal dari Sela!”
Ragu ketujuh orang tersebut.
“Siapakah yang mau aku titipi?” , sergah Ki Juru Mertani.
Agak ragu, salah seorang perumput mendekat..
“Baiklah, mana?”
Orang yang baru berkata segera mendekat dengan keranjang rumput yang tetap berada dipundaknya.
Ki Juru Mertani menyerahkan gulungan rontal itu kepada sang perumput. Namun diam-diam, Ki Ageng Pamanahan bergerak kearah belakang sang tukang rumput dengan gerakan pelan.
Begitu gulungan rontal telah diterima dan telah diselipkan dipinggang sang perumput, cepat Ki Ageng Pamanahan mencabut keris dari pinggangnya dan meraih daun telinga sang perumput tersebut. Tak menunggu waktu, disayatnya daun telinga sang penerima rontal hingga putus seketika itu juga!! Jerit kesakitan terdengar diiringi darah yang mengucur! Melihat kejadian itu, keenam perumput yang lain ketakutan dan langsung melarikan diri!!
Perumput yang kehilangan daun telinganya terlihat mengerang-ngerang kesakitan sembari mendekap telinganya yang telah kehilangan cuping. Darah merembes disela-sela jari jemarinya.
Sembari memegang keris, Ki Ageng Pamanahan berkata :
“Katakan kepada Arya Penangsang! Aku, orang Sela menunggu dia disini. Jika dia lelaki sejati, pasti akan datang!”
Sang perumput ketakutan setengah mati melihat Ki Ageng Pamanahan. Cepat dia membalikkan badan dan langsung lari terbirit-birit dengan meninggalkan keranjang rumputnya yang tumpah ditanah!!
Ki Ageng Pamanahan dan Ki Juru Mertani mengawasi sang perumput yang tengah berlari. Begitu sudah tidak terlihat mata, keduanya segera menaiki punggung kuda masing-masing dan kembali menuju barisan semula.
Perang besar akan terjadi sebentar lagi!!

ARYA PENANGSANG 5

Arya Penangsang (5)

16 April 2010
Bagian 5
Suasana tegang! Tak ada seorang-pun yang berani mengeluarkan suara! Hanya bunyi detak jantung yang berdegub kencang saja yang terdengar! Dan hanya terdengar oleh masing-masing pemilik jantung sendiri!
Nampak, Adipati Adiwijaya dan Arya Penangsang telah berhadapan dengan keris terhunus ditangan! Mata keduanya saling bertatapan! Gigi mereka saling bergemeletukan! Tinggal menunggu siapa dulu yang memulai menyerang!
Dibawah, kedua kelompok prajurid khusus dari Jipang dan Pajang juga tegang! Begitu junjungannya diserang atau memulai menyerang dulu, maka mereka-pun telah siap menyerang lawannya! Sesaat, mereka melirik kearah junjungannya yang masih berdiri berhadap-hadapan, sesaat kemudian mereka melirik lawan mereka yang bersila bersebelahan!
Suasana benar-benar genting!
Disaat kritis seperti itu, disaat keadaan yang tinggal meledak sebentar lagi, tiba-tiba terdengar suara salam yang keras! Disengaja keras!
“Assalammu’alaikum!!!”
Serta merta, semua mata segera melayangkan pandangannya kearah mana suara salam itu berasal. Nampak Sunan Kudus keluar dari ruang belakang diiringi beberapa santri.
Sembari menghela nafas, seluruh prajurid Jipang maupun beberapa prajurid Pajangyang muslim menjawab salam Sunan Kudus, walau tidak serempak.
Disana, baik Adipati Adiwijaya maupun Arya Penangsang segera menghela nafas melepaskan ketegangan yang semenjak tadi menyergap seluruh persendian dan melepak didada masing-masing!
Sunan Kudus berjalan menghampiri mereka sembari berucap lantang :
“Lho…lho..lho!! Kalian ini Priyayi (bangsawan: Damar Shashangka) atau pedagang keris???!!”
Sunan Kudus bergerak ketengah-tengah antara Arya Penangsang dan Adipati Adiwijaya. Posisi Adipati Adiwijaya berada disebelah kiri Sunan Kudus sedangkan Arya Penangsang berada disebelah kanannya. Terlihat, Sunan Kudus sigap memegang pergelangan tangan kedua priyayi yang tengah hendak saling serang itu! Namun, bagi yang jeli, pasti akan melihat, bahwa tangan kiri Sunan Kudus tengah memegang erat pergelangan tangan kanan Adipati Adiwijaya yang tengah menggenggam Kyai Carubuk, sedangkan tangan kanan Sunan Kudus memegang erat pergelangan tangan kiri Arya Penangsang yang jelas-jelas tidak menggenggam apapun. Tangan kanan Arya Penangsang yang menggenggam Kyai Brongot Setan Kober bebas bergerak leluasa!!
Sunan Kudus menatap tajam Arya Penangsang, terdengar dia membentak!!
“Sarungkan kerismu, Penangsang!!”
Arya Penangsang termangu. Masih belum bergeming. Sekali lagi Sunan Kudus membentaknya :
“Sarungkan, Penangsang!!”
Arya Penangsang ragu. Belum juga menurunkan kerisnya. Sekali lagi Sunan Kudus membentaknya lebih keras :
“Sarungkan kataku!!!”
Kali ini Arya Penangsang menurunkan Kyai Brongot Setan Kober yang terangkat, kemudian menyarungkannya ke dalam warangkanya. Melihat Arya Penangsang menyarungkan keris, Adipati Adiwijaya-pun lantas ikut menyarungkan Kyai Carubuk kedalam warangka.
“Hampir saja aku membuat makanan segar bagi burung…”, Arya Penangsang bergumam setengah menggeram.
Adipati Adiwijaya tersenyum kecil..
Sunan Kudus menghela nafas, sembari tetap diposisinya, Sunan Kudus berkata kepada Adipati Adiwijaya :
“Maafkan atas situasi yang tidak semestinya terjadi ini, anakmas Adiwijaya. Saya menyesal. Dan untuk kebaikan kita bersama, saya menyarankan, tidak ada salahnya jika anakmas beserta rombongan pulang ke Pajang lebih awal. Disini, saya pribadi dan seluruh masyarakat Kudus, sudah merasa sangat terhormat atas kedatangan anakmas Adiwijaya berikut rombongan jauh-jauh dari Pajang..”
Adipati Adiwijaya menghaturkan sembah didepan dada sembari berkata :
“Bapa Sunan, seharusnya saya yang meminta maaf kepada Bapa Sunan Kudus, karena hampir saja saya membuat seorang wanita menjadi janda baru di ruangan dalam pesantren ini..”
Mata Sunan Kudus maupun Arya Penangsang berkilat mendengar kata-kata Adipati Adiwijaya.
Sunan Kudus segera menyela :
“Sudahlah…sudahlah! Saya memaklumi kemarahan anakmas Adiwijaya. Daripada berlarut-larut, sebaiknya anakmas mengalah..”
“Baiklah Bapa Sunan, memang lebih baik saya dan rombongan mengundurkan diri dari sini…”
Adipati Adiwijaya, Ki Ageng Pemanahan beserta beberapa prajurid khusus Pajang segera berpamitan kepada Sunan Kudus.
Rombongan dari Pajang memutuskan pulang terlebih dahulu sebelum acara puncak peringatan Tahun Baru Islam dimulai. Iring-iringan rombongan ini tengah keluar dari pondok pesantren Kudus!
Diruang dalam, setelah melepas kepergian rombongan Pajang, Sunan Kudus memanggil secara pribadi Arya Penangsang diruangan khusus. Disana, hanya adaSunan Kudus dan beberapa prajurid khusus yang terpercaya, termasuk Patih Matahun.
Sunan Kudus memarahi Arya Penangsang atas segala tindakan bodoh yang telah dilakukannya. Arya Penangsang menyela, meminta penjelasan dimanakah letak kebodohannya. Bukankah malah Sunan Kudus yang melerai disaat dia sudah berhadapan dengan Adipati Adiwijaya?
Dengan suara tinggi, Sunan Kudus berkata :
“Siapakah yang telah menduduki kursi yang telah aku isi doa-doa khusus?”
Seketika Arya Penangsang terdiam.
“Lantas, apakah kamu tidak menyadari tadi, saat aku melerai kalian, tangan kanan Adiwijaya aku pegang erat, sedangkan tangan kanan kamu aku biarkan bergerak bebas? Ingat-ingat lagi! Aku memegang tangan kanan Adiwijaya yang tengah menggenggam Kyai Carubuk, sedangkan tangan kanan kamu yang tengah menggenggam Kyai Brongot aku biarkan bebas!”
Arya penangsang tetap terdiam.
“Lantas, apa yang aku katakan kepadamu?”
Arya Penangsang mengerutan dahinya, mencoba mengingat…
“Aku berkata ‘SARUNGKAN KERISMU’ sampai tiga kali. Kamu tahu maksudku yang sebenarnya? ”
Arya Penangsang menatap Sunan Kudus, mulai sedikit memahami..
“Maksudku ‘SARUNGKAN KERISMU KEDADA ADIWIJAYA, BUKAN KE WARANGKANYA’!! Kamu saja yang terlampau bodoh, sehingga tidak memahami kata-kata isyarat yang aku ucapkan. Kamu telah menyia-nyiakan kesempatan kamu memusnahkan salah seorang manusia penentang ajaran mulia !!”
Arya Penangsang menggeram menyadari kebodohannya sendiri! Serta merta dia menyembah dan berkata :
“Sebelum rombongan Adiwijaya jauh, tidak ada salahnya saya mengejar dan menghabisinya sekarang!!”
Sunan Kudus menatap tajam Arya Penangsang :
“Ini bukan saat yang tepat menyerang rombongan Pajang dimana banyak berkumpul para tamu undangan di Kudus. Asal kamu tahu, kecuali aku dan kamu, tidak akan ada yang mampu menghadapi kesaktian Adiwijaya. Dia memiliki pegangan ilmu kanuragan warisan Buda Majapahit. Sangat riskan jika aku terjun sendiri. Tidak pantas bagiku berhadapan dengan anak kemarin sore seperti dia. Sedangkan kamu, saat ini hanya akan menjadi boneka mainan jika berhadapan dengan dia, karena seluruh ilmu kanuragan yang kamu miliki telah lumpuh!!”
Dada Arya Penangsang terasa panas dan sesak mendengar penuturan Sunan Kudus!
“Lantas bagaimana Bapa Sunan?”
“Selama tiga bulan berselang, mulai bulan Muharram ini, kamu harus berpuasa terus-menerus! Genap tiga bulan, seluruh hizib dan asma’ yang kamu miliki akan kembali pulih dan berfungsi. Setelah itu, aku akan mencari jalan lain untuk menghadapi Adiwijayai!!”
Arya Penangsang lemas mendengarnya.
Dan Sunan Kudus berlalu kedalam sembari hanya mengucapkan salam.
Permintaan Ratu Kalinyamat.
Rombongan Pajang yang pulang lebih awal dari jadwal semula nampak keluar dari kota Kudus. Disepanjang jalan, seluruh prajurid yang ikut dalam rombongan, senantiasa mempertajam kewaspadaan mereka. Kejadian yang pernah menimpa rombongan Ratu Kalinyamat dulu, membuat mereka lebih siaga dan tidak mau kecolongan.
Disepanjang perjalanan, banyak mata yang memperhatikan mereka dengan tatapan penuh tanda tanya. Acara peringatan Tahun Baru Islam di Kudus belum juga dilaksanakan, namun rombongan dari Pajang nampak malah pulang lebih awal. Ada apa gerangan?
Ketika belum terlampau jauh dari kota Kudus, mendadak Adipati Adiwijayamemerintahkan rombongan berhenti. Perintah yang mendadak ini sedikit mengejutkan seluruh prajurid yang ikut dalam rombongan, tak terkecuali Ki Ageng Pemanahandan Ki Juru Mertani. Namun, setelah menyadari jika Sang Adipati hanya sekedar ingin beristirahat, ketegangan-pun mencair.
Nampak, Adipati Adiwijaya turun dari atas punggung gajah tunggangannya. Beberapa prajurid yang bertugas mengiringi disamping binatang tunggangan bertubuh besar tersebut tanggap dan segera membantu.
Melihat Sang Adipati turun, serentak seluruh rombongan-pun ikut turun dari punggung kuda masing-masing.
Daerah mana tempat mereka berhenti memang sangat memungkinkan untuk dijadikan tempat istirahat sejenak. Disamping tempatnya yang landai, rimbunnya pepohonan raksasa yang tumbuh disepanjang jalan, membuat tempat tersebut terasa sejuk menyegarkan.
Bergegas Ki Ageng Pemanahan memerintahkan beberapa prajurid mendirikan tenda darurat sebagai tempat berteduh dan beristirahat bagi Sang Adipati. Enam orang prajurid bekerja cekatan, sebentar saja telah berdiri tenda sederhana namun megah. Permadani-pun segera dihamparkan didalam tenda.
Adipati Adiwijaya berkenan duduk diatas permadani tersebut. Suasana yang segar. Para prajurid memanfaatkan kesempatan tersebut untuk beristirahat sejanak. Masing-masing memilih tempat yang rindang. Berpencar walau tetap tidak jauh dari tenda Sang Adipati.
Ki Ageng Pamanahan dan Ki Juru Mertani menghadap. Keduanya duduk bersila didepan Adipati Adiwijaya. Nampak dari kejauhan, ketiga priyayi Pajang ini tengah berbincang-bincang serius.
Sejurus kemudian, terlihat Ki Ageng Pamanahan memanggil seorang prajurid. Ki Ageng Pamanahan memerintahkan sesuatu. Prajurid yang dipanggil bergegas menghampiri beberapa temannya yang lain, dia nampak memilih-milih, ada sekitar sepuluh orang yang dia pilih. Lantas mereka menghilang sejenak dibalik gerombol pepohonan dan kembali lagi dengan pakaian yang sudah berganti. Mereka semua melepas pakaian keprajuridan, dan kini telah berganti dengan pakaian rakyat biasa.
Ditempat lain, Adipati Adiwijaya diam-diam juga telah berganti pakaian. Begitu juga dengan Ki Ageng Pamanahan. Namun anehnya, pakaian kebesaran Sang Adipati, kini malah dikenakan oleh Ki Juru Mertani.
Banyak prajurid yang bertanya-tanya. Namun dari bisik-bisik satu teman ke teman yang lain, mereka jadi tahu jika Adipati Adiwijaya diikuti oleh Ki Ageng Pamanahan dan sepuluh prajurid yang terpilih, hendak menuju ke Gunung Danaraja untuk menemui Ratu Kalinyamat yang tengah bertapa telanjang. Mereka semua sengaja menyamar sebagai rakyat biasa agar tidak menimbulkan kecurigaan dari mata-mataJipang Panolan yang mungkin tengah memperhatikan rombongan mereka.
Adipati Adiwijaya, Ki Ageng Pemanahan dan kesepuluh prajurid yang kini telah berganti busana, terlihat berangkat meninggalkan rombongan. Kedua belas orang yang telah menyamar ini memacu kuda memisahkan diri dari dari rombongan dan memilih jalan yang menuju ke Jepara.
Agak lama berselang, Ki Juru Mertani segera memerintahkan seluruh rombongan siap-siap berangkat. Ki Juru Mertani dibantu dua orang prajurid, segera menaiki punggung gajah milik Sang Adipati.
Rombongan Pajang yang kini dipimpin oleh Ki Juru Mertani, berangkat dan memilih jalan ke arah Pajang.
Adipati Adiwijaya, Ki Ageng Pamanahan berikut sepuluh orang prajurid yang kini telah menyamar sebagai rakyat biasa terlihat memacu kuda dengan kecepatan sedang. Mereka tengah menyamar sebagai para pedagang keliling.
Akhirnya, sampailah juga kedua belas orang ini ke kota Jepara. Adipati Adiwijaya segera mencari letak Gunung Danaraja. Sesuai petunjuk yang diberikan oleh prajurid Pajang yang sempat pulang ke Pajang untuk mengambil perbekalan makanan dan berbagai keperluan bagi Ratu Kalinyamat beserta seluruh yang mengawal dan melayaninya, Adipati Adiwijaya-pun akhirnya berhasil menemukan lokasi gua tempat dimana Ratu Kalinyamat tengah menjalani tapa telanjang-nya.
Kedatangan kedua belas orang berkuda ini menimbulkan kecurigaan dari beberapa prajurid Pajang yang bertugas menjaga mulut gua. Mereka yang tengah bersembunyi ditempat-tempat strategis dibeberapa sudut tersembunyi mulut gua, segera mempersiapkan diri. Sang pemimpin pasukan memberikan isyarat agar memasang anak panah pada busurnya. Anak panah telah terpasang, busur telah diangkat dan direntangkan, siap menunggu isyarat untuk dibidikkan!!
Namun sang pemimpin prajurid memekik tertahan manakala tanpa sengaja mengenali dua orang penunggang kuda yang tengah memacu kuda dibarisan depan. Seketika itu juga, dia memberikan isyarat agar menurunkan busur panah. Dia segera keluar dari tempat persembunyian diiringi empat prajurid yang lain.
Menyadari kedatangannya telah disambut sedemikian rupa, Adipati Adiwijaya beserta rombongan terus memacu kuda lebih kencang kearah atas. Ketika jarak antara prajurid berkuda dan kelima orang yang telah menyambut sedemikian dekat, Adipati Adiwijaya segera menghentikan laju kudanya.
Kelima orang prajurid Pajang yang menyambut rombongan menghaturkan sembah hormat. Adipati Adiwijaya segera memerintahkan agar secepatnya seluruh prajurid mencari tempat yang tersembunyi untuk menaruh kuda masing-masing.
Diiringi Ki Ageng Pamanahan dan dihantar pemimpin prajurid penjaga, Adipati Adiwijaya segera memasuki gua. Sang pemimpin prajurid memanggil seorang pelayan wanita. Sang pelayan memekik gembira melihat kehadiran Adipati Adiwijaya dan Ki Ageng Pamanahan. Beberapa pelayan yang lain segera menyadari akan hal itu, mereka semua segera mendekat dan menghaturkan sembah.
Adipati Adiwijaya memerintahkan seorang pelayan wanita untuk menghadap Ratu Kalinyamat, mengabarkan kedatangannya. Seorang pelayan wanita tergopoh-gopoh memasuki salah satu relung gua. Sejenak kemudian keluar dan menghadap kembali kepada Adipati Adiwijaya. Sembari menyembah dia berkata :
“Kasinggihan dhawuh, Kangjeng. Kangjeng Ratu Ayu Kalinyamat meminta Kangjeng masuk ke dalam. Hanya Kangjeng seorang, tidak boleh ditemani oleh siapapun.”
Adipati Adiwijaya mengangguk. Kemudian berjalan kearah relung gua seorang diri.
Didalam, beberapa pelita terpasang didinding-dinding gua. Ruang itu cukup luas juga. Disana, merapat ke dinding gua, terlihat agak samar, sesosok wanita cantik dengan tubuh sempurna dan rambut panjang terurai, tengah duduk bersila. Dan yang membuat Adipati Adiwijaya segera menundukkan muka, karena menyadari, sosok wanita cantik itu benar-benar telanjang bulat tanpa busana.
Untung, kondisi ruangan yang cukup gelap dan hanya diterangi beberapa pelita, sedikit menyamarkan perwujudan telanjang tersebut. Namun walau bagaimanapun juga, jika mau melihat secara seksama, Adipati Adiwijaya sebetulnya bisa melihat tubuh itu secara utuh.
Dengan menundukkan wajah, Adipati Adiwijaya memberikan sembah. Dan sosok wanita cantik yang tengah bersila itu-pun membalas sembah Adipati Adiwijaya. Setelah berbasa-basi menanyakan kabar keselamatan masing-masing, Adipati Adiwijaya, sembari tetap menundukkan wajah-pun berkata :
“Kakangmbok Ratu Ayu, seyogyanya kakangmbok Ratu berkenan mengenakai kemben. Sangat-sangat segan hati saya jikalau harus berbincang-bincang dengan kakangmbok sedangkan kakangmbok dalam keadaan telanjang bulat sedemikian rupa…”
Dari balik geiaian rambut panjangnya, Ratu Kalinyamat tersenyum manis..
“Maafkan aku dhimas, aku terpaksa tidak bisa memenuhi permintaanmu. Biarlah, selain almarhum kangmas Sunan Kalinyamat, cukup kamu saja laki-laki yang melihat aku dalam keadaan tanpa busana seperti ini. Sudah menjadi sumpahku, tidak sudi aku mengenakan busana lagi, jikalau Hyang Maha Agung, belum memberikan keadilan kepada Arya Penangsang, pembunuh kakangmas Prawata dan kangmas Sunan Kalinyamat!”
Adipati Adiwijaya menghela nafas berat.
“Kakangmbok Ratu Ayu, sangat prihatin saya melihat keadaan kakangmbok. Sampai kapan terus telanjang tanpa busana. Selain tabu didengar orang banyak, sekali lagi, saya juga sangat merasa segan dan rikuh jika harus kemari dan tetap melihat kakangmbok seperti ini.”
Ratu Kalinyamat diam sejenak, lantas mendesis lirih dan berkata :
“Dhimas, seharusnya aku yang mempertanyakan hal ini kepadamu. Tidakkah kamu kasihan, tidakkah kamu iba melihat aku? Melihat penderitaanku? Melihat ketidak adilan yang menimpaku?”
Adipati Adiwijaya terdiam. Lantas membuka suara :
“Jangan salah sangka kakangmbok. Saya dan Nimas Sekaring Kedhatonsenantiasa memikirkan keadaan kakangmbok Ratu Ayu disini. Saya juga terus menimbang-nimbang bagaimana cara terbaik untuk menyingkirkan Arya Penangsang. Namun, kondisi diluar tidaklah memungkinkan bagi saya berhadapan langsung dengan Arya Penangsang secara terbuka. Bapa Sunan Kudus berada dibelakang Arya Penangsang. Bapa Sunan Kudus sangat berpengaruh dalam Dewan Wali Sangha. Kakangmbok tahu sendiri itu. Sangat mudah bagi Bapa Sunan Kudusmempengaruhi keputusan Dewan Wali Sangha. Jika sampai Pajang berhadapan secara frontal dengan Jipang, bukan tidak mungkin, Bapa Sunan Kudus, melalui Dewan Wali Sangha akan memerintahkan Cirebon dan Banten bergabung dengan Jipang menghadapi orang-orang yang dinilai kafir seperti saya!”
Adipati Adiwijaya diam sejenak, lantas melanjutkan kata-katanya :
“Sungguh, secara pribadi, saya sendiri juga sudah tidak tahan melihat kelakuan Arya Penangsang. Hampir saja saya bentrok secara langsung dengan dia. Hampir saja saya tidak bisa menahan diri…”
Dan Adipati Adiwijaya menceritakan pertemuannya dengan Arya Penangsang di pesantren Kudus.
“Hyang Widdhi Wasa masih berkenan mencegah saya berhadapan langsung dengan Arya Penangsang.”
Terdengar helaan nafas lembut dari bibir Ratu Kalinyamat, lalu dia berkata :
“Dengar dhimas. Jika kamu benar-benar dapat menyingkirkan Arya Penangsang, aku bersumpah, disaksikan Hyang Maha Agung, disaksikan langit dan bumi, semoga aku akan menuai kutuk jika aku mengingkari sumpah ini. Dengarkan! JIKA KAMU MAMPU MENYINGKIRKAN ARYA PENANGSANG, MAKA TAHTA DEMAK BINTARA AKAN AKU LIMPAHKAN KEPADAMU!”
Adipati Adiwijaya mengangkat wajahnya. Dilihatnya, dari balik geraian rambut panjangnya, sorot mata Ratu Kalinyamat berkilat-kilat, tengah menatap wajah Adipati Adiwijaya.
“Bahkan, jikalau peraturan hukum jaman Buda masih berlaku luas dimasyarakat Jawa, dimana seorang laki-laki boleh memadu dua orang wanita kakak beradik sekaligus, maka sungguh aku-pun rela lahir batin kamu nikahi sebagai madu dari adikku Nimas Sekaring Kedhaton. Namun, hal itu tidak mungkin bisa diterima kebanyakan masyarakat Jawa sekarang. Oleh karena itu, kamu boleh memilih selir-selir milik almarhum kangmas Sunan Kalinyamat dan almarhum kangmas Prawata yang engkau sukai untuk kamu nikahi!”
Adipati Adiwijaya terdiam. Kesungguhan kata-kata Ratu Kalinyamat terpancar dari wajah ayunya. Sengaja, rambut panjangnya yang tergerai, disibak kesamping sedikit, sehingga payudara Sang Ratu-pun terlihat. Dada Adipati Adiwijaya berdesir melihatnya, cepat-cepat dia menundukkan wajah kembali..
“Tapi ingat, dhimas! Satu permintaanku, jika kamu berhasil mengalahkan Arya Penangsang, dan tahta Demak Bintara telah kamu pegang, aku minta, janganlah kamu mendirikan Kerajaan Buda. Biarlah kamu tetap meneruskan sebuah pemerintahan berbentuk Kesultanan Islam. Biarlah gelarmu dikenal orang sebagai seorang Sultan, bukan seorang Prabhu!”
Keheningan menyergap seketika. Dan Adipati Adiwijaya semakin terperangah manakala melihat Ratu Kalinyamat menyibak seluruhnya geraian rambut panjang yang menutupi tubuh bagian depannya. Kini, tampak jelas didepan mata Adipati Adiwijaya, tubuh polos Sang Ratu tanpa ditutupi oleh apapun juga. Mendadak dada Adipati Adiwijaya terasa sesak.
“Inilah tanda kesungguhanku,” bisik Ratu Kalinyamat sembari tersenyum..
Dengan menarik nafas berat, Adipati Adiwijaya menyembah hormat dan berkata :
“Baiklah kakangmbok Ratu Ayu. Saya berjanji akan mencari jalan yang terbaik untuk menyingkirkan Arya Penangsang. Dan jika hal itu berhasil atas waranugraha Hyang Widdhi, saya berjanji, akan memakai gelar Sultan, bukan Prabhu!”
Dan Adipati Adiwijaya-pun memohon diri untuk keluar ruangan. Dan Ratu Kalinyamat-pun menghaturkan terima kasihnya.
Malam itu, Sang Adipati bermalam di Gunung Danaraja. Dengan didampingi Ki Ageng Pamanahan, Adipati Adiwijaya membahas rencana yang tepat untuk memenuhi permintaan Ratu Kalinyamat. Ki Ageng Pamanahan mengusulkan, agar Sang Adipati mempercayakan hal ini kepada Ki Juru Mertani.
Ki Juru Mertani adalah sosok yang cerdik dan bisa diandalkan dalam memberikan pemecahan dan cara yang terbaik disaat semua jalan dirasa buntu.
Keesokan harinya, setelah berpamitan kepada Ratu Kalinyamat, Adipati Adiwijayabeserta Ki Ageng Pamanahan dan sepuluh prajurid yang mengiringinya, meninggalkan Gunung Danaraja bertolak ke Pajang!

ARYA PENANGSANG 4

Arya Penangsang (4)

9 April 2010
Bagian 4
Tusukan keris bisa dihindari oleh Adipati Adiwijaya. Bahkan dengan tak terduga, keris ditangan Sang Adipati cepat menukik ke arah perut! Orang bercadar kaget! Begitu cepat serangan tersebut! Dia berusaha menghindar selekasnya, namun karena terlalu cepatnya serangan, kulit perutnya-pun tergores juga! Dibalik cadarnya, dia meringis kesakitan!!
Salah seorang yang sedari tadi terjatuh, kini bangkit berdiri dan langsung menyerang! Kegaduhan kembali terjadi lebih dari semula! Namun, bagaimanapun juga, kedua pasukan khusus Sureng Jipang Panolan ini diam-diam harus mengakui, sosokAdipati Adiwijaya memang tangkas dan trengginas dalam bermain silat!
Belum lama pertempuran terjadi, karena terpancing suara gaduh dan jeritan para selir yg berselang-seling dengan teriakan-teriakan dari mereka yang tengah berkelahi, beberapa pasukan pengawal Adipati merangsak masuk ke dalam kamar. Nampak Ki Ageng Pemanahan dan Ki Juru Martani langsung ikut meleburkan diri dalam kegaduhan!
Sang Adipati berteriak nyalang :
“Jangan bunuh!! Tangkap hidup-hidup!!”
Apa daya dua orang menghadapi beberapa prajurid pengawal Adipati Pajang. Begitu tombak-tombak panjang yang runcing terarah ketubuh mereka, mau tak mau, mereka menghentikan serangannya dan langsung duduk bersimpuh!!
“Kangjeng Adipati, saya juga telah membekuk dua orang lain yang berada diluar!”. Ujar Ki Ageng Pamanahan sembari menyembah.
Adipati Adiwijaya menyarungkan kerisnya.
“Kurung mereka untuk sementara waktu. Obati luka-luka mereka. Besok pagi, hadapkan semuanya kepadaku!”
Ki Ageng Pemanahan menyembah lantas memrintahkan dua orang prajurid pengawal untuk mengikat tangan kedua orang bercadar yang kini tengah duduk bersimpuh! Keduanya lantas digiring keluar kamar dan dibawa ke Pakunjaran atau tempat kurungan.
Malam itu, Adipati Adiwijaya terpaksa harus tidur dikamar permaisurinya, Nimas Sekaring Kedhaton yang jadi ikut terbangun akibat kejadian tersebut. Beberapa pelayan wanita terpaksa pula membereskan seluruh perabotan pecah belah yang hancur berserakan akibat perkelahian barusan.
Malam itu, seisi Kadipaten Pajang geger!
Keesokan harinya, keempat orang yang semalam tertangkap, dihadapkan secara khusus kepada Adipati Adiwijaya. Cadar mereka telah dibuang. Kini wajah keempat-empatnya nampak jelas sudah. Mereka menundukkan muka, menunggu jatuhnya hukuman mati yang pasti akan diberikan oleh Adipati Adiwijaya!
Sang Adipati terdiam agak lama memperhatikan keempat orang yang nampak sudah sangat pasrah tersebut. Di sana, Ki Mas Manca, Ki Wila, Ki Wuragil, Ki Ageng Pemanahan dan Ki Juru Martani ikut hadir. Berikut beberapa prajurid pengawal. Suasana tegang, menantikan apa yang hendak dilakukan oleh Sang Adipati. Tak ada yang berani mengeluarkan suara sekecil apapun.
Pada akhirnya, Adipati Adiwijaya-pun angkat suara.
“Dhimas Pemanahan. Bagaimana hasilnya?”
Ki Ageng Pamanahan menyembah sejenak dan menjawab :
“Kasinggihan Dalem Kangjeng, keempat orang ini adalah prajurid Sureng dari Jipang Panolan!”
Seluruh yang hadir terkejut seketika mendengar jawaban Ki Ageng Pemanahan. Adipati Adiwijaya lekat memperhatikan keempat orang dihadapannya sembari memincingkan mata. Yang diperhatikan semakin menundukkan kepala.
Nampak kemudian, Ki Ageng Pemanahan mengeluarkan benda berbuntalkan kain putih dari balik bajunya, kemudian menyembah sejenak dan berjalan duduk menghampiri tempat Adipati.
“Mohon Kangjeng memeriksa benda ini.”
Adipati Adiwijaya menerima benda berbungkus kain putih yang dihaturkan Ki Ageng Pemanahan. Dengan menahan nafas, dibukanya kain putih penutup, begitu benda telah lepas dari penutupnya, memerahlah wajah Sang Adipati. Bibirnya tanpa sadar bergumam :
“Kyai Brongot Setan Kober!”
Suara Sang Adipati menambah keterkejutan semua yang hadir. Ditangannya kini tergenggam sebilah keris yang tak lain adalah Kyai Brongot Setan Kober, keris pusaka milik Sunan Kudus yang telah diberikan kepada Arya Penangsang.
Dada Adipati Adiwijaya bergemuruh. Ditunjukkannya keris ditangan kepada Ki Mas Manca. Ki Mas Manca memincingkan mata memperhatikan keris tersebut lekat-lekat. Sembari menarik nafas, wajah Ki Mas Manca bersemu merah!
“Bagaimana, kangmas?” , tanya Adipati Adiwijaya.
Ki Mas Manca diam sesaat. Kemudian dia menjawab :
“Terserah dhimas Adipati. Ini sudah keterlaluan!”
Keris lantas diserahkan kembali kepada Ki Ageng Pemanahan. Kini kembali Adipati Adiwijaya memperhatikan empat orang prajurid Sureng Jipang Panolan. Sang Adipati dengan suara tertahan, menanyakan langsung kepada keempat prajurid dihadapannya, benarkah Arya Penangsang yang telah memerintahkan mereka.
Salah seorang prajurid yang ditunjuk untuk menjawab, dengan terbata-bata membenarkan akan hal itu. Suasana menjadi bertambah tegang.
Adipati Adiwijaya menghela nafas, lantas berkata :
“Kalian orang Jipang, kali ini aku ampuni nyawa kalian!”
Mendengar titah Sang Adipati, semua yang mendengar tidak menduga sama sekali. Lantas kembali Sang Adipati berkata :
“Pulanglah kembali ke Jipang Panolan. Tapi Kyai Brongot Setan Kober aku ambil. Dan kepulangan kalian akan aku beri bekal emas permata dan uang ketheng yang banyak. Katakan kepada Arya Penangsang, tidak mudah membunuh Jaka Tingkir!”
Keputusan sudah diturunkan, tidak ada lagi yang berani membantah.
Keeesokan harinya, keempat prajurid Sureng dari Jipang dihantarkan oleh prajurid khusus pengawal Adipati keluar dari ibu kota Pajang untuk pulang kembali ke Jipang Panolan.
Betapa malu keempat orang prajurid Sureng tersebut mendapat perlakuan semacam itu.
Undangan Sunan Kudus
Kepulangan empat prajurid Sureng ke Jipang Panolan, bukannya membawa kabar keberhasilan yang membuat Arya Penangsang senang, namun malahan membawa malu yang mencoreng muka Arya Penangsang. Tidak hanya gagal menjalankan tugas, tapi juga meninggalkan Keris Kyai Setan Kober di Pajang!
Sudah bisa ditebak, diam-diam keempat orang prajurid ini dijatuhi hukuman penggal kepala oleh Arya Penangsang karena tidak berhasil menjalankan tugas. Ironis.
Kabar kegagalan itu dilaporkan oleh Arya Penangsang kepada Sunan Kudus. Sunan Kudus tak habis pikir, betapa tinggi ilmu kanuragan yang dimiliki Adipati Adiwijaya. Keris Kyai Brongot Setan Kober, tidak mampu melukai tubuhnya sedikitpun. Arya Penangsang mendesak Sunan Kudus agar diberi ijin untuk mengadakan penyerangan ke Kadipaten Pajang. Karena semua sudah kepalang basah. Namun lagi-lagi, Sunan Kudus menghalanginya. Sunan Kudus masih memiliki satu cara lagi. Satu cara untuk memancing Adipati Adiwijaya keluar dari sarang. Jika berhasil dipancing keluar dari sarangnya, maka untuk memusnahkan segala ilmu kanuragan yang dimilikinya dan lantas membunuhnya akan semakin mudah dilakukan.
Pada hari yang akan ditentukan, Sunan Kudus secara pribadi akan mengirimkan undangan khusus kepada Adipati Pajang. Sunan Kudus sengaja mengundang Sang Adipati guna untuk memperingati tahun baru Islam, satu Muharrom, yang hendak dirayakan oleh Pesantren Kudus. (Waktu itu, kalender Jawa belum lahir. Kalender yang dipakai adalah kalender Hijriyyah dan kalender Saka. Kedua kalender yang berasal dari tradisi Islam dan tradisi Hindhu ini dipakai secara bersamaan. Jadi waktu itu belum dikenal istilah SURO-an. Kalender Jawa baru lahir kelak oleh cicit Ki Ageng Pemanahan, cucu Panembahan Senopati, yaitu Kangjeng Sultan Agung Anyakrakusuma pada tahun 1555 Saka atau 1633 Masehi. Kalender Jawa adalah sistim penanggalan dimana kalender Hijriyyah dari Islam dan kalender Saka dari Hindhu dilebur menjadi satu kesatuan. : Damar Shashangka)
Dapat dipastikan, Adipati Adiwijaya sebagai seorang pemimpin yang disegani di Jawa, akan menghargai undangan tersebut. Undangan dari seorang anggota Dewan Wali Sangha yang tergolong sepuh. Yang punya pengaruh dan suaranya didengar di dalam Dewan Wali. Maka mau tak mau, Adipati Adiwijaya akan hadir memenuhi undangan tersebut.
Manakala Adipati Adiwijaya telah datang ke Kudus, maka Arya Penangsang yang harus menyambut kedatangannya. Sunan Kudus telah menyediakan sebuah kursi khusus yang sengaja telah diberi doa-doa untuk melenyapkan segala macam ilmu kesaktian yang dimiliki siapapun yang duduk diatasnya. Dan adalah tugas Arya Penangsang untuk mengusahakan agar Adipati Adiwijaya bisa duduk dikursi tersebut.
Disamping itu, diam-diam Arya Penangsang juga harus mempersiapkan seluruh angkatan bersenjata Jipang untuk bersiap-siap menyerang Pajang.
Jika Adipati Adiwijaya telah menduduki kursi khusus tersebut, maka saatnya bagi Arya Penangsang untuk membunuh Sang Adipati saat itu juga. Dapat dipastikan, seluruh kekuatan Adipati Adiwijaya luruh. Begitu Sang Adipati telah tewas, maka Arya Penangsang harus segera memerintahkan penyerangan besar-besaran ke Pajang.
Dengan tidak adanya Adipati Adiwijaya, Pajang, sekuat apapun, hanya akan menjadi harimau tak bertaring. Pajang akan kucar-kacir. Dan Jipang pasti bisa menjebol Pajang!
Rencana yang sangat matang tersebut disetujui Arya Penangsang. Dan menginjak bulan ke sebelas menurut kalender Islam, yaitu bulan Dzulqo’idah, Sunan Kudusmengirimkan surat undangannya ke Pajang.
Surat dari Sunan Kudus tersebut diterima oleh Adipati Adiwijaya. Isi surat segera menjadi bahasan serius Sang Adipati. Disana tertera bahwasanya Sunan Kudus mengharap dengan hormat kepada Kangjeng Adipati Pajang, Adiwijaya, untuk bersedia hadir di Kudus pada bulan Muharrom guna ikut memperingati perayaan tahun baru Islam.
Seluruh orang terdekat Adipati Adiwijaya menyarankan agar Adipati Adiwijaya berhati-hati. Bisa jadi ini adalah jebakan baginya. Namun, tidaklah etis mengabaikan undangan seorang berpengaruh di Jawa seperti Sunan Kudus dimana suaranya memiliki kekuatan dalam Dewan Wali Sangha.
Maka diputuskan, Adipati Adiwijaya akan berangkat ke Kudus dengan didampingi oleh Ki Ageng Pemanahan dan Ki Juru Martani. Sedangkan Ki Mas Manca, Ki Wila dan Ki Wuragil, akan tetap di Pajang. Menyiagakan seluruh kekuatan angkatan bersenjata Pajang jika nanti terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Adipati Adiwijaya mempercayakan Pajang kepada Ki Mas Manca manakala dia pergi ke Kudus.
Dua bulan kemudian, menjelang beberapa hari sebelum hari perayaan yang tertera dalam surat undangan dari Kudus, berangkatlah rombongan Adipati Pajang ke Kudus. Segala macam kebesaran Pajang nampak dari rombongan tersebut. Disetiap jalan yang dilalui, rombongan Pajang senantiasa mendapatkan berbagai bentuk penghormatan dari rakyat. Bahkan, ditempat-tempat mana rombongan Pajang bermalam, rakyat sangat bersuka cita menerima kehadiran mereka. Banyak yang mempersembahkan makanan dengan suka rela walaupun sebenarnya, seluruh rombongan tidak begitu memerlukannya. Perbekalan yang dibawa dari Pajang sudah lebih dari cukup.
Namun, Adipati Adiwijaya memerintahkan kepada seluruh prajurid yang ikut dalam rombongan agar menerima segala persembahan dari rakyat tersebut. Walaupun nampak remeh temeh, namun itu adalah wujud kecintaan rakyat kepada mereka semua. Jangan sekali-kali mengacuhkan persembahan makanan yang diunjukkan dengan rasa penuh kecintaan tersebut.
Beberapa hari kemudian, sampailah rombongan Adipati Pajang ke kota Kudus. Kedatangan rombongan dari Pajang ini mengagetkan masyarakat Kudus. Mereka terperangah melihat segala macam kebesaran yang terlihat. Mereka baru menyadari, bahwa Pajang ternyata sudah pantas jika menjadi sebuah Kerajaan besar. Panji-panji Pajang berkibar-kibar. Berkelebat dengan gagah diterpa angin. Nampak didepan,Adipati Adiwijaya menaiki seekor gajah diiringi beberapa prajurid berkuda diarah depan, kiri, kanan dan baru rombongan berkuda juga dibelakangnya. Seluruh orang Kudus kagum melihat kebesaran Pajang!
Rombongan itu langsung menuju ke Pesantren Kudus. Disana, para santri menyambut kedatangan rombongan Adipati Pajang dengan menabuh rebana dan menyanyikan salawat Nabi seperti kebiasaan mereka.
Diantara rombongan, Ki Ageng Pemanahan dan Ki Juru Martani, tetap mempertajam kewaspadaan mereka. Nampak, selain para santri, ada terlihat beberapa pasukan Jipang yang juga telah hadir disana. Bahkan ada beberapa pasukan dari daerah lain yang nampak ikut hadir.
Namun kedatangan rombongan dari Pajang, lebih menyita perhatian. KebesaranAdipati Adiwijaya sangat memukau semua mata. Begitu Sang Adipati turun dari atas punggung gajah, nampak dipendhopo, beberapa santri langsung menyambutnya dan mempersilakan masuk ke pendhopo.
Seluruh rombongan turun dari kuda. Masing-masing tali kekang kuda ditambatkan ditempat yang telah disediakan. Perayaan tahun baru Islam di Kudus memang terlihat meriah.
Ki Ageng Pemanahan dan Ki Juru Martani segera mengiringi Adipati Adiwijaya. Mereka masuk ke pendhopo diikuti para prajurid khusus Pajang yang lain.
Begitu seorang santri kembali mempersilakan agar Adipati Adiwijaya masuk ke ruang dalam untuk bertemu secara khusus dengan Sunan Kudus, Ki Ageng Pemanahan segera memilih beberapa prajurid yang terlatih untuk ikut mengiringi Sang Adipati bersamanya. Sedangkan Ki Juru Mertani, tetap bertugas diluar, menyiagakan seluruh prajurid yang tidak ikut masuk bila ada hal yang tidak dikehendaki nanti.
Manakala Adipati Adiwijaya, Ki Ageng Pemanahan dan beberapa prajurid pilihan masuk keruang dalam, betapa terkejut mereka ketika disana Arya Penangsang dan beberapa prajurid khusus Jipang Panolan telah berdiri menyambut.
Baik Adipati Adiwijaya maupun Ki Ageng Pemanahan segera waspada.
Arya Penangsang langsung bergerak memeluk Adipati Adiwijaya. Setelah itu dia berkata :
“Dhimas Adiwijaya, sangat senang hatiku melihat adhimas bersedia hadir di Kudus ini.”
Adipati Adiwijaya tersenyum dan menjawab :
“ Kangmas Penangsang, hati saya-pun gembira bisa melihat kangmas juga hadir di Kudus ini.”
Diam-diam, Ki Ageng Pemanahan memberikan isyarat wspada kepada seluruh prajurid yang ikut masuk.
Terdengar Arya Penangsang kembali buka suara :
“Mari adhimas, silakan duduk disini…”
Arya Penangsang mempersilakan Adipati Adiwijaya untuk duduk disalah satu kursi yang tersedia. Namun, mendadak terbersit perasaan ganjil dihati Adipati Adiwijaya manakala matanya melihat keberadaan kursi yang dimaksud oleh Arya Penangsang. Tanpa sadar, Adipati Adiwijaya berkata :
“Ah, kangmas. Bukankah itu kursi paling bagus diantara semua kursi yang ada disini. Tak layak bagiku duduk disana. Hanya Bapa Sunan Kudus sendiri sebagai tuan rumah yang pantas mendudukinya.”
Arya Penangsang tersenyum simpul .
“Tidak mengapa dhimas, mari…”
Arya Penangsang terlihat agak memaksa. Sikap Arya Penangsang menambah ketidak nyamanan dihati Adipati Adiwijaya semakin bertambah-tambah. Terasa aneh. Adipati Adiwijaya, secara halus tetap menolak untuk duduk disana.
“Sudahlah, kangmas Penangsang. Saya akan duduk dikursi sebelahnya saja. Saya tidak enak duduk disana, sepertinya ada sesuatu dikursi tersebut.”
Arya Penangsang kaget. Namun segera dia menutupi kekagetannya.
“Memang ada apa dikursi tersebut? Apa yang dhimas takutkan?”
Adipati Adiwijaya tersenyum dan menjawab :
“Ah, mungkin hanya perasaan saya saja. Tapi jika memang tidak ada apa-apa disana, apakah kangmas berani menduduki kursi tersebut?”
Arya Penangsang sedikit kebingungan. Hal ini terbaca oleh Adipati Adiwijaya dan Ki Ageng Pemanahan.
“Mengapa kangmas? Kangmas takut duduk disana?” , sindir Adipati Adiwijaya.
Memerah wajah Arya Penangsang, dia menjawab :
“Tidak ada apa-apa disana, buat apa takut?!”
Dan dengan pongahnya Arya Penangsang langsung berjalan kearah kursi tersebut dan langsung duduk diatasnya. Padahal Sunan Kudus telah mewanti-wanti, kursi tersebut telah diisi dengan doa-doa, siapa saja yang menduduki kursi tersebut, dapat dipastikan, seluruh ilmu kanuragan yang dimiliki akan luruh seketika itu juga. (Sampai saat ini, kursi bersejarah ini masih tersimpan di Kudus. : Damar Shashangka)
Diam-diam, Sunan Kudus yang tengah mengintip dari dalam menggeram marah melihat kebodohan dan kesombongan Arya Penangsang. Namun dia belum memutuskan untuk keluar menemui Adipati Adiwijaya.
Melihat kursi yang semula ditawarkan kepadanya kini telah diduduki oleh Arya Penangsang, Adipati Adiwijaya tersenyum simpul, lantas mengambil tempat duduk yang bersebelahan dengan Arya Penangsang. Ki Ageng Pemanahan dan beberapa prajurid, segera duduk bersila dibawah.
Setelah berbasa-basi sejenak, Adipati Adiwijaya menyengaja berkata demikian :
“Oh ya kangmas, saya jadi ingat. Beberapa bulan yang lalu, Pajang kemasukan para pembunuh bayaran. Nyawa saya yang diincar. Tapi syukurlah, Hyang Widdhi masih memberikan keselamatan kepada saya…,”
Sengaja Adipati Adiwijaya menggantung kalimatnya untuk melihat reaksi Arya Penangsang. Sedikit gugup Arya Penangsang, tapi berpura-pura dia kaget.
“Benarkah? Ah berani sekali. Syukurlah jika dhimas bisa lolos dari maut dan selamat sampai hari ini.”
Adipati Adiwijaya tersenyum mengangguk, lantas :
“Dan keris yang dipakai para pembunuh untuk membunuh saya, berhasil saya ambil…”
Adipati Adiwijaya memberi isyarat kepada Ki Ageng Pemanahan. Ki Ageng Pemanahan nampak tegang. Dia lantas mendekat dan mengulurkan sebuah peti kayu jati ke arah Adipati Adiwijaya.
Adipati Adiwijaya menerimanya. Lantas membuka peti tersebut. Dikeluarkannya sebilah keris dari sana. Dipegangnya sedemikian rupa sehingga semua mata bisa melihat keris ditanganya.
“Inilah keris tersebut!”
Muka Arya Penangsang bagai dirobek-robek! Merah padam sudah! Giginya bergemeletukan. Apalagi ketika mendengar ucapak Adipati Adiwijaya selanjutnya.
“Dan saat ini, sang keris telah bertemu kembali dengan tuannya.”
Dengan wajah tenang dan bibir tersenyum, Adipati Adiwijaya menyerahkan keris tersebut kepada Arya Penangsang. Ragu Arya Penangsang menerimanya. Namun akhirnya, dengan perasaan campur aduk antara malu dan marah, diterima juga keris itu.
Terdengar kembali Adipati Adiwijaya berkata datar:
“Konon katanya keris tersebut ampuh. Tapi bagi saya terasa seperti digelitiki dengan lidi saat keris tersebut dihunjamkan didada saya.”
Amarah Arya Penangsang bangkit. Setengah menggeram dia berkata :
“Jika saya yang menggunakannya, jangankan manusia, gunung pun akan longsor, lautanpun akan kering!!” (Ungkapan sebenarnya adalah GUNUNG JUGRUG SEGARA ASAT yang artinya memang GUNUNG AKAN LONGSOR LAUTAN AKAN KERING. Menggambarkan betapa dahsyatnya benda tersebut. : Damar Shashangka)
Adipati Adiwijaya tergelitik juga, lantas Sang Adipati mencabut keris yang sedari tadi terselip dipinggang belakangnya. Kyai Carubuk nama keris Adipati Adiwijaya. Keris itu adalah pemberian Kangjeng Sunan Kalijaga!
“Lebih ampuh mana dengan Kyai Carubuk milik saya ini!”
Arya Penangsang seketika bangkit berdiri ! Dengan mata merah memandang kearah Adipati Adiwijaya tajam! Adipati Adiwijaya lantas ikut bangkit pula!! Suasana berubah tegang!!!
Dua orang ksatria ini kini telah berdiri berhadap-hadapan dengan keris ditangan masing-masing. Arya Penangsang dengan Kyai Brongot Setan Kober ditangannya ,sedangkan Adipati Adiwijaya dengan Kyai Carubuk!!!
Dibawah, baik prajurid Pajang maupun prajurid Jipang telah memutar keris mereka yang semua terselip dipinggang belakang, kini sudah diputar kedepan dengan gagang sudah mereka genggam!! Tinggal mencabut kerisnya!! Kedua pasukan khusus ini sudah siap tempur juga!!!
Dua kekuatan tangguh, Jipang dan Pajang, kini sudah berhadap-hadapan!!!